Peluang Bisnis Sapu Gelagah

Selain dari ijuk, sapu ternyata juga bisa dibuat dari rangkaian rumput. Bagi warga di daerah Pemalang, Jawa tengah, rumput-rumput dari gelagah mampu disulap menjadi sebuah sapu dengan kualitas ekspor dengan tujuan utama adalah Malaysia, Singapura, Pakistan, Korea, serta Jepang. Saban bulan, satu perajin saja mampu meraup omzet lebih dari Rp 100 juta.

Jika Anda berkunjung ke daerah Pemalang, Jawa Tengah, tak ada salahnya bagi Anda untuk menyempatkan diri berbelanja sapu khas dari daerah tersebut. Sapu gelagah, atau sapu yang dibuat dari bunga rumput gelagah, merupakan salah satu produk andalan yang dihasilkan oleh warga setempat.

Seperti namanya, sapu ini terbuat dari gelagah. Gelagah adalah salah satu jenis tanaman rumput yang tumbuh liar di banyak tempat. Oleh warga Pemalang, gelagah ini menjadi sumber pendapatan yang tak bisa disepelekan. Gelagah yang disulap menjadi produk bernilai guna seperti sapu menjadi sumber pendapatan utama bagi penduduk sekitar. Maklum, tak hanya pasar lokal, sapu dari gelagah juga mampu menembus pasar internasional.

Ma’mun Riyad, salah satu pemilik UD Ruyung Arjuna, yang memproduksi sapu gelagah, mengungkapkan, permintaan sapu gelagah dari pasar internasional menurun. “Penurunan permintaan hingga 50%,” ujar pria yang mewarisi usaha pembuatan sapu gelagah dari keluarganya itu. Tahun 1980-an adalah masa jaya bagi UD Ruyung karena permintaan dari luar negeri sangat banyak.

Ma’mun bilang, salah satu penyebab berkurangnya permintaan yang masuk ke perusahaannya lantaran makin banyak warga Pemalang yang punya usaha sejenis. Saat ini, UD Ruyung mempekerjakan sekitar 30 orang untuk memenuhi pesanan. Selain untuk memenuhi pasar lokal, saban dua bulan sekali, Ma’mun mengirim satu kontainer yang berisi sekitar 15.000 hingga 30.000 unit sapu ke Malaysia, Singapura, Korea, serta Jepang.

Untuk memproduksi sapu, Ma’mun membutuhkan banyak gelagah. Ia memberikan contoh, satu kuintal rumput gelagah hanya bisa menghasilkan sekitar 200 sampai 250 unit sapu. Untuk memproduksi sapu hingga 30.000, Ma’mun membutuhkan gelagah sebanyak 120 kuintal atau 12.000 kilogram (kg) gelagah.

Adapun waktu yang dibutuhkan untuk membuat sapu sejatinya lumayan cepat. Satu orang karyawan bisa menghasilkan 30 hingga 50 unit sapu setiap harinya.

Dengan hitungan satu orang bisa menyelesaikan 30 unit sapu saban hari, 30 karyawan Ma’mun mampu menghasilkan sapu gelagah hingga 900 tiap hari. Dengan masa kerja 24 hari, saban bulan, Ma’mun mampu menghasilkan 21.600 sapu yang dijual sekitar Rp 2.000 hingga Rp 10.000, tergantung dari modelnya.

Dengan kemampuan seperti itu, Ma’mun hanya bisa mengirim produknya dua bulan sekali. Meski begitu, dari 100% produk yang dihasilkan, 95% untuk memenuhi pasar ekspor. “Sisanya baru untuk pasar lokal,” ujar Ma’mun yang tiap bulan menyapu omzet lebih dari Rp 100 juta ini.

Menurut Ma’mun, proses pembuatan sapu gelagah sebenarnya cukup mudah. Pertama-tama bunga gelagah dijemur di bawah terik matahari hingga kering. Setelah kering, bunga gelagah kemudian dirangkai menjadi mahkota sapu. Sedang tangkai gelagah digunakan sebagai gagang sapu.

Hingga kini, semua proses pembuatan sapu gelagah masih dilakukan secara manual. “Tak ada mesin, yang ada hanya keahlian tangan saja,” jelas Ma’mun yang berani menjamin kalau produk-produk sapu buatannya mampu bersaing dengan buatan dari pabrik.

Lantaran berorientasi ekspor, ada standar khusus yang harus Ma’mun penuhi. Pertama, sapu harus bersih, yakni bebas dari serbuk bunga gelagah. Kedua, berat sapu harus berkisar antara 200 sampai 300 gram. “Semua standar ini harus dipenuhi jika tak ingin produknya ditolak atau dikembalikan,” ujarnya.

Selain perajin lokal, pesaing utama produk sapu gelagah juga datang dari Burma dan Vietnam. “Tapi, produk kita tetap juara, kok,” ujarnya. Selain lentur, harga sapu gelagah dari Pemalang juga lebih murah.

Perajin lain sapu gelagah adalah Ibrahim. Sejak memulai usaha satu tahun yang lalu, Baim begitu panggilannya mengaku kalau penjualannya mengalami peningkatan. Selain dijual ke pengepul, sapu gelagah buatan Baim juga mulai dilirik oleh konsumen luar negeri. “Walau melalui tangan kedua, produk sapu kami juga di ekspor hingga Korea dan Malaysia,” tutur Baim yang mengaku kalau produksi sapunya masih fluktuatif.

Menurutnya, salah kendala produksi sapu gelagah adalah pasokan bahan baku. Rumput gelagah banyak tumbuh pada bulan Agustus. Saat itu, adalah masa bagi perajin untuk menyimpan gelagah. Selain harganya murah, yakni Rp 8.000 per kilo, pasokan juga banyak. “Kalau lewat Agustus, harganya jadi lebih mahal,” ujar Baim yang mampu memproduksi 3.000 unit sapu saban bulan dengan dibantu enam karyawan.

Membanderol sapu dengan harga Rp 6.500 tiap unitnya, Baim mengaku hanya mengambil keuntungan Rp 500. Dengan omzet Rp 19,5 juta per bulan, keuntungan bersih yang didapat Baim sekitar Rp 1,5 juta per bulan.

Saat menjelang lebaran seperti sekarang adalah musim panen bagi perajin. Permintaan sapu gelagah dari pasar lokal biasanya melonjak dua kali lipat dari hari biasa.

Pos ini dipublikasikan di Peluang Bisnis dan tag , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s