Peluang Bisnis Tas dari Spanduk Bekas

Spanduk, poster, dan baliho boleh saja tidak terpakai lagi. Tapi, dengan sedikit sentuhan seni dan kreativitas, bahan-bahan bekas ini bisa menjadi produk mahal. Selain mengirit dana untuk modal bahan baku, bekas alat promosi tersebut juga bisa mengurangi sampah.

Semangat daur ulang telah menghadirkan produk-produk dari barang bekas. Dari isu lingkungan itu, pada 2006 lalu, muncul tren barang-barang yang terbuat dari bahan bekas spanduk, poster, dan baliho.

Salah satu pemain di bisnis ini adalah, Plastic Works yang memproduksi pelbagai tas dan produk lainnya. Mereka membuat tote bag, tas laptop, koper mini, sandal, dompet, gorden kamar mandi, map folder, dan agenda. “Awalnya, tren ini hanya berkembang di kalangan aktivis lingkungan hidup dan perusahaan untuk langkah Corporate Social Responsibility (CSR) mereka,” kata Aswin Aditya, pemilik Plastic Works.

Saat ini, menurut Aswin, orang-orang yang tak menganut paham hijau pun turut bangga menenteng produk-produk ramah lingkungan buatan Plastic Works. “Segmen pasarnya menengah ke atas, termasuk orang-orang yang has nothing to do dengan isu lingkungan,” ungkapnya.

Wajar saja, karena memang barang produksi Palstic Works berkualitas ekspor. “Sekitar 70% produksi untuk tujuan ekspor ke pelbagai negara, seperti Amerika Serikat, Belanda, Inggris, Australia, Singapura, dan Jerman,” tutur dia.

Aswin menuturkan, perusahaannya pernah mendapat permintaan dari Singapura sebanyak 2.700 pieces, Eropa 3.000 pieces, dan Amerika Serikat 1.500 pieces. “Permintaan kebanyakan dari green organization seperti A Lot To Say asal Inggris,” kata Aswin.

Jika sudah mendarat di negeri seberang, harganya pun melambung. “Tas laptop yang biasa saya jual di lokal Rp 350.000, kalau sudah sampai di luar negeri harganya menjadi € 46 (sekitar Rp 550.000),” ujar Aswin.

Banjir permintaan dari luar negeri itu tak lepas dari peran media. Aswin mengatakan, Stasiun Televisi CNN pernah meliput produknya pada tahun 2009 lalu.

Meski banyak pesanan dari negeri orang, Aswin bilang, ia tetap perlu mengidentifikasi selera pasar lokal. Pembeli di Indonesia biasanya memilih tas satu warna. “Sementara, konsumen Eropa dan Amerika Serikat lebih suka tas yang warna-warni dan eye catching,” imbuhnya.

Soal bahan baku, Aswin tak kesulitan mendapatkan, bahkan dengan harga yang relatif murah. Ia bekerjasama dengan pemulung. Melalui cara ini, Aswin berupaya mensejahterakan pemulung dengan membeli di atas harga standar. “Saya beli Rp 2.000 per kilogram,” katanya.

Selama ini, Aswin bisa merangkai spanduk bekas ukuran 40 m x 2 m menjadi satu tas laptop. Banner ukuran 40 m x 3 m menghasilkan empat tote bag.

Awin memiliki sembilan karyawan untuk mengolah bahan menjadi tas. Proses pembuatannya: Pertama, bahan yang sudah dicuci bersih direndam disinfektan selama setengah sampai dua jam agar steril; baru kemudian dijemur di bawah sinar matahari.

Kedua, bahan dipotong sesuai pola tertentu supaya bisa terbentuk model yang diinginkan. “Bagian ini yang tersulit karena membutuhkan kreativitas membentuk pola tertentu,” ungkapnya.

Ketiga, pola itu dijahit membentuk panel. Keempat, panel disatukan untuk proses penjahitan akhir dengan aksesori lainnya.

Harga aksesori pelengkap bervariasi. Misalnya, tali harganya Rp 9.000 per gulung. Satu gulung tali panjangnya 18 meter untuk membuat tiga hingga empat tas. Harga lining yang dipakai untuk bahan pelapis bagian dalam tas Rp 9.000 sampai Rp 35.000 per meter.

Aswin membanderol produknya mulai Rp 25.000 sampai Rp 350.000, tergantung tingkat ketelitian dan kreativitas. Harga jual memang berkali-kali lipat dari modal. “Di situlah letak penghargaan terhadap kreativitas,” ujarnya.

Selain perorangan, Aswin juga membidik pembeli perusahaan. “Biasanya perusahaan memesan khusus dengan spanduk atau poster bekas berlogo perusahaan mereka,” kata dia.

Bagi pembeli yang memesan dalam jumlah banyak, Aswin memasang harga Rp 30.000-Rp 100.000 per pieces. Tak heran, dalam sebulan, ia rutin meraup omzet Rp 20 juta-Rp 60 juta dari penjualan 500 sampai 1.000 produk.

Untuk pemasaran di dalam negeri, Aswin lebih mengandalkan promosi dari mulut ke mulut. Pembeli biasanya datang sendiri ke workshopnya di Ciledug, Tangerang.

Beda dengan Aswin, Tarlen Handayani, pemilik Vitarlenology di Bandung, mengkombinasikan barang baru dan bekas untuk produknya. Ia menggabungkan spanduk dan poster bekas dengan aneka kain tradisional Indonesia. “Saya tertarik untuk mengeksplorasi kain dari daerah Timur Indonesia,” ujarnya. Sehingga, desainnya lebih condong ke pop art yang warna-warni.

Tarlen menjual produk tas laptop, dompet, dan tas belanja dengan harga Rp 40.000 hingga Rp 150.000. Namun, ia tidak memasang harga berdasarkan banyaknya bahan yang dipakai, melainkan tingkat kesulitan pembuatannya.

Konsumen berani membayar mahal untuk menghargai ide dan keunikan produknya. Kebanyakan barangnya dikoleksi oleh para penggila fanatik, yang mayoritas berasal dari kalangan menengah ke atas.

Dalam sebulan Tarlen mampu memproduksi sekitar 100 produk. Jumlah produksinya sedikit karena ia lebih mengutamakan keunikan. Ia menitipkan beraneka produknya di Selasar Sunaryo, Tobucil n Klabs, dan toko buku. (peluangusaha.kontan.co.id)

Pos ini dipublikasikan di Inspirasi Bisnis dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s