Peluang Bisnis Lampu Hias Batik

Lampu hias bercorak batik memiliki fungsi lebih dari sekadar penerangan. Sebagai aksesori interior, lampu hias ini mempunyai nilai seni yang tinggi. Peminatnya pun banyak dan beragam, mulai dari pemilik rumah, sampai pengelola hotel dan perkantoran.

Anggi Yanuar, pemilik Yellowcraft sekaligus perajin lampu hias bercorak batik di Majalengka, Jawa Barat, membuat produk ini dengan bahan dasar kayu mahoni dan pinus. “Mahoni dan pinus adalah tipikal kayu yang tepat untuk membuat lampu batik,” ungkapnya.

Pria yang baru setahun melakoni usaha ini memilih corak batik Cirebon sebagai motif tudung lampunya. Yanuar punya alasan: corak batik Cirebon adalah salah satu yang terbaik dan mewakili kekayaan Jawa Barat. “Salah satu ciri khas batik Cirebon adalah, tingkat keabstrakannya yang lebih kentara dibandingkan dengan batik lainnya,” jelas lelaki berusia 26 tahun ini.

Yanuar dan tiga karyawannya memulai pekerjaan membuat tudung lampu bercorak batik dengan memilih kayu guna mengukur ketebalan dan kekuatannya. Langkah berikutnya, membuat pola batik. Corak batik sebisa mungkin berbeda untuk tiap produk lampu.

Setelah itu, ia menghaluskan dan merakit kayu menjadi bentuk tudung lampu dengan penambahan unsur logam, yaitu besi sebagai tiang penyangga. Proses akhir, adalah finishing, mengecat pola yang telah dibuat sebelumnya.

Untuk menyelesaikan produk tersebut, Yanuar membutuhkan waktu dua hingga empat hari, tergantung bentuk dan ukuran lampu. Pria yang telanjur mencintai batik Cirebon ini mengungkapkan, lamanya pembuatan tudung lampu karena semua tahap dilakukan dengan tangan dan peralatan seadanya. Tapi, soal hasil, jangan ditanya, pasti mantap deh.

Lampu hias Yellowcraft dibanderol dengan harga Rp 100.000 hingga Rp 450.000 tergantung ukuran lampu. Yanuar memproduksi tudung lampu bercorak batik setinggi 50 cm-100 cm.

Dalam sebulan, ia bisa menjual 10 sampai 20 lampu dengan total omzet mencapai Rp 10 juta. Memang masih minim. Soalnya, Yanuar tergolong baru di bisnis lampu hias bercorak batik.

Selain memproduksi dari desain sendiri, Yanuar juga membuat lampu berdasarkan pesanan konsumen. “Harga lampu batik custom jauh lebih mahal dibandingkan dengan biasanya,” ujar dia.

Tapi, Yanuar terkendala stok kayu mahoni dan pinus. Harga kedua kayu ini pun fluktuatif. Meski begitu, ia bilang, bisnis lampu hias bercorak batik masih sangat potensial. Buktinya, pengelola hotel banyak memesan produk tersebut.

Wahyul Huda, yang membuat lampu hias bercorak batik dengan bendera Titanium Lighting sejak dua tahun lalu, membenarkan, pembeli dari pengelola hotel dan kantor terutama asal Jakarta makin banyak. Bentuknya yang unik dan berbau etnik, memang sangat cocok sebagai hiasan interior rumah maupun ruangan.

Namun, “Kebanyakan pembeli masih perorangan,” kata Wahyul. Ia mengungkapkan, beberapa pembeli asing sudah menjajaki pembelian lampu hias bercorak batik produksi Titanium Lighting.

Tidak hanya yang bermotif batik, konsumen juga mencari tudung lampu yang bercorak dan wayang. Titanium Lighting membanderol produknya dengan harga mulai dari Rp 250.000 hingga Rp 2 juta.

Untuk motif batik, konsumen paling banyak memesan corak batik kontemporer dengan sentuhan batik Solo. Corak batik ini terkesan lebih modern. Setiap bulan, Titanium Lighting yang berbasis di Solo dan memiliki lima pekerja mampu memproduksi setidaknya 50 lampu hias bercorak batik.

Menurut Huda, membuat lampu bercorak batik gampang-gampang susah “Asalkan pemilihan bahan bakunya bagus, meski berasal dari barang bekas,” kata Huda yang galerinya saban bulan meraih omzet hingga Rp 20 juta.

Beda dengan perajin lainnya, Budi Haryanto membuat lampu hias bercorak batik dari batok kelapa. Pria asal Tulungagung, Jawa Timur, ini juga memakai motif dalam karyanya.

Sebelum berkreasi, Budi mengeluarkan daging dan air kelapa dengan teknik khusus. Tujuannya, supaya batok kelapa tetap utuh sempurna. Ia mendatangkan kelapa khusus dari Karangasem, Bali. Kenapa? Kelapa dari daerah itu berukuran lebih besar ketimbang lainnya.

Budi lalu mengebor tepi corak batik atau wayang dengan jarak yang tipis. Ia menghabiskan waktu sekitar lima jam untuk ini. Sebab, pengeboran perlu ketelitian yang tinggi. “Salah bor sedikit, bisa-bisa Arjuna jadi Petruk,” seloroh dia.

Selanjutnya, batok kelapa bermotif batik atau wayang tersebut ditanam pada dudukan yang terbuat dari kayu kelapa setinggi 20 cm, dengan taburan serat-serat halus kelapa. Tinggi dudukan tergantung jenis lampu. Lampu duduk biasanya butuh dudukan lebih panjang daripada lampu tempel.

Terakhir, Budi memasang lampu kuning berdaya 5 watt. “Jika lampu ini dipasang, bolongan-bolongan di pinggir wayang di batok kelapa akan memancarkan sinar yang memantul di dinding. Hasilnya, ada wayang di dinding,” kata Budi.

Budi menjual lampu hiasnya dengan harga hanya Rp 100.000 hingga Rp 200.000. Lantaran terbuat dari batok kelapa, lampu hias kreativitas Budi bernilai lebih, sekalipun harganya paling mahal cuma Rp 200.000. Maka, ia menargetkan para kolektor benda seni sebagai pasar potensial produk-produknya. (peluangusaha.kontan.co.id)

Pos ini dipublikasikan di Peluang Bisnis dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s