Peluang Bisnis Kemitraan Kuliner Pempek

Pempek. Siapa yang tak kenal makanan asli Palembang, Sumatera Selatan ini? Penjajanya ada di mana-mana, dari yang mangkal sampai keliling kampung. Soalnya, pempek cepat cocok dengan lidah orang Indonesia.

Penggemar pempek yang banyak, tidak sebatas wong kito, sebutan orang Palembang, membuat bisnis makanan ini tetap lezat, selezat si kapal selam–jenis yang pempek paling terkenal.

Makanya, banyak tawaran kemitraan pempek. Kemitraan makanan yang berbahan baku utama ikan tengiri ini mengalami perkembangan yang cukup signifikan. Terutama, jumlah gerainya.

Pertumbuhan rata-rata outlet kemitraan pempek mencapai dua kali lipat dalam kurun waktu satu hingga dua tahun. Bahkan, sudah sampai ke Makassar, Sulawesi Selatan.

Memang, kemitraan menjadi cara pemasaran yang efektif untuk memperkenalkan dan mempopulerkan merek dan produk dagangan. Apalagi, kalau makanan itu memiliki cita rasa yang khas.
Berikut tiga kemitraan pempek yang pernah diulas KONTAN pada edisi lampau.

• Pempek Patrol

Pempek Patrol mengayun kan usahanya dari Jakarta pada 2005. Rusman Hakim, pemiliknya, menawarkan kemitraan di 2007. Saat KONTAN mengupas kemitraan Pempek Patrol yang bermarkas di Cibubur, Desember 2008, mereka baru memiliki 10 gerai yang tersebar di Jakarta dan sekitarnya.

Kini, jumlah mitra Pempek Patrol jauh berkembang dan outlet-nya pun bertambah menjadi 20 gerai. Tak hanya buka di seputaran Jakarta saja, tapi juga di Surabaya dan Sidoarjo, Jawa Timur.

Tapi, paket investasi yang ditawarkan berubah. Paket gerobak dan etalase yang sebelumnya butuh investasi sebesar Rp 12 juta, sekarang naik menjadi Rp 15 juta.
Selain itu, Rusman juga menawarkan paket dalam bentuk kafe dengan investasi sebesar Rp 50 juta, tanpa biaya waralaba dan royalti. “Saat ini, kami sudah memiliki tiga gerai jenis kafe,” ucapnya.

Hanya, tidak ada perubahan berarti dalam sisi menu. Pempek Patrol menjual pempek mulai Rp 10.000 hingga Rp 12.500 per potong, seperti kapal selam, lenjer, pistel, serta tekwan.

Cuma, jika dulu omzet per gerai hanya sekitar Rp 350.000 per hari. Sekarang, Rusman memperkirakan, mitra bisa mengantongi pendapatan hingga Rp 900.000. Dengan syarat, mitra sudah mengikuti prosedur kelayakan usaha yang ditentukannya.

Tahun depan, Rusman berencana membentangkan sayap bisnisnya ke luar Pulau Jawa. Ia juga akan membolehkan mitranya untuk memproduksi sendiri pempek, namun bahan baku tetap dari dirinya. “Pertimbangan itu demi menjaga kesegaran produk pempek beserta cukanya,” ungkap Rusman.

Pempek Wongkito 19

Pertumbuhan gerai Pempek Wongkito 19 juga terbilang pesat. Ketika KONTAN menulis usaha mereka pada September 2010 lalu, jumlah gerai Pempek Wongkito baru 24 outlet. Tapi, kini, sudah bertambah dua kali lipat lebih, menembus 50 gerai.

Tentu, perkembangan gerai yang cukup drastis ini bukanlah tanpa alasan. Kemas Firmansyah, pemilik Pempek Wongkito 19, berujar, mitra yang bergabung dengannya tertarik karena produk pempek buatannya selalu mempertahankan cita rasa yang khas. “Kami fokus pada rasa pempek dan produk yang kami tawarkan sangat higienis,” katanya. Makanya, kalau konsumen membeli pempek Wongkito 19 di Medan atau Jakarta, rasanya tetap sama, sama-sama enak.

Selain itu, menurut Kemas, tidak adanya biaya waralaba dan biaya royalti serta kemudahan untuk memulai usaha Pempek Wongkito 19, menjadi daya tarik bagi mitra untuk berkongsi. Karena itu, gerai Pempek Wongkito 19 bisa tumbuh hingga 100% dalam tempo tiga bulan saja. Saat ini, gerai Pempek Wongkito 19 telah menjangkau kota Medan, Klaten, Semarang, Bandung, dan Yogyakarta.

Sekalipun gerai bertambah pesat, Kemas tidak lantas mengerek nilai investasi kemitraan. Kalaupun ada, kenaikan itu merupakan penyesuaian harga bahan pokok.

Kemas menyiasati kenaikan investasi ini dengan memberikan banner, penambahan peralatan masak, dan pengemasan pempek. Nilai investasi kemitraan Wongkito 19 naik Rp 1 juta. Investasi gerai mini menjadi Rp 7 juta, sedangkan untuk tipe gerai middle jadi Rp 19 juta dan tipe gerai diamond menjadi Rp 61 juta. Plus pembayaran sebesar Rp 1,5 juta sebagai deposit untuk menebus bahan baku.

Namun, Kemas menyatakan bahwa penambahan investasi ini kecil dibandingkan dengan omzet per gerai. Sehari, tiap gerai mampu menjual minimal 30 potong pempek. Bahkan, kalau letak gerainya strategis, mitra mampu menjual hingga 100 potong pempek dengan harga Rp 10.000 per pieces.

Jadi, mitra bisa mendekap pendapatan Rp 9 juta hingga Rp 30 juta sebulan. Dengan hitungan itu, Kemas memperkirakan, mitra balik modal kurang dari setahun.

Kemas menyarankan, mitra memilih lokasi yang strategis dan ramai, seperti di mal, kampus, sekolah, dan fasilitas umum lainnya, untuk memaksimalkan keuntungan.

Pempek 8 Ulu Cik Ning

Pemain lain di kemitraan pempek, adalah Imron Casidy, pemilik Pempek 8 Ulu Cik Ning. Saat KONTAN mengulas lengkap kemitraan ini pada pertengahan Januari 2010 lalu, Pempek Cik Ning baru memiliki 11 gerai saja. Sebanyak 8 outlet di antaranya milik mitra dan tiga lainnya merupakan kepunyaan Imron.

Waktu itu, Pempek 8 Ulu Cik Ning baru tiga bulan menawarkan kemitraan. Menjelang penutupan tahun 2010 ini, Pempek 8 Ulu Cik Ning sudah memiliki 22 gerai yang telah menjangkau wilayah Aceh, Semarang, Bandung, dan Makassar. “Lima milik sendiri,” ujar Imron. Jadi, gerai pempek ini naik dua kali lipat dalam 11 bulan.

Sementara, untuk paket investasi yang ditawarkan tak mengalami perubahan sepanjang tahun ini. Pempek 8 Ulu Cik Ning memiliki tiga pilihan paket investasi, yaitu gerobak I, gerobak II, dan kios yang masing-masing membutuhkan investasi awal Rp 10 juta, Rp 15 juta, dan Rp 50 juta.

Mitra bisa meraih omzet mulai dari Rp 300.000 hingga Rp 700.000 per hari. Dengan omzet sebesar itu, mitra balik modal dalam lima bulan untuk paket gerobak I dan II serta 12 bulan untuk kios.

Meski menikmati perkembangan yang lumayan bagus, Imron enggan memasang target penambahan gerai di tahun 2011 nanti. Pasalnya, penerima penghargaan franchise terlaris 2010 dari majalah Franchise ini mengaku sangat selektif mencari mitra. Maksud seleksi ketat calon mitra ini demi mengetatkan standar kualitas yang diterapkan Imron terhadap para calon mitranya. “Kami lebih mengedepankan kualitas dibandingkan kuantitas,” tutur dia.

Saat ini, Pempek 8 Ulu Cik Ning menyediakan sekitar 12 pilihan menu dengan harga berkisar antara Rp 10.000 hingga Rp 12.000. Menurut Imron, pangsa pasarnya adalah semua kalangan, dari kelas atas hingga bawah. Soalnya, “Sekarang, pempek telah menjadi makanan favorit semua kalangan masyarakat kita,” pungkasnya. (peluangusaha.kontan.co.id)

Pos ini dipublikasikan di Peluang Bisnis dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s