Mengirim Daging Premium Langsung ke Rumah

Daging impor, dalam hal ini daging sapi Australia, punya peminat tersendiri di Jakarta. Keberadaan ekspatriat dan para diplomat yang bekerja di Jakarta mendukung kebutuhan ini. Konsumen lokal pun mulai terpincut dengan kualitas dan rasa daging impor ini.

Peluang inilah yang ditangkap Yenny Firdaus Slaney, ibu dua anak, yang memulai bisnis daging dari lemari pendingin di dapurnya.

Awal 2009 Yenny membangun bisnis daging rumahannya melalui website. Bisnis ini berawal dari niat membantu rekan kerja suaminya yang membutuhkan daging sapi Australia, negeri asal Slaney, sang suami.

“Lama-kelamaan jadi terpikir, kenapa tidak mencoba bisnis rumahan, mengantar daging dari rumah ke rumah sesuai pesanan dan kebutuhan,” kata Yenny kepada Kompas Female.

Menurut Yenny, perputaran bisnis daging impor rumahan cukup cepat. Memulainya pun tak terlalu sulit, karena daging potongan dari distributor pertama yang dikenalnya hanya dikenakan pajak bea masuk dan non PPN.

“Bisnis ini berdasarkan trust antara saya sebagai penyuplai dengan konsumen yang semuanya adalah untuk kebutuhan rumahan,” tutur Yenny.

Setiap minggu selalu ada order yang harus segera dilayani pengirimannya, kata Yenny. Langganan menjadi pangsa pasar lain yang mendorong perkembangan bisnis ini. Misalnya saja, kata Yenny, seorang pelanggan selalu menerima kiriman kebutuhan daging tepat waktu, setiap Senin minggu pertama setiap bulannya. Pesanannya pun sama jumlah dan jenis dagingnya. Nilai pemesanan sekitar Rp 5 – 6 juta. Namun jika dirata-rata, per dua minggu Yenny menerima pesanan antara Rp 1 – 2 juta.

Untuk melayani kebutuhan konsumennya, Yenny membuka akses melalui SMS, e-mail, dan website. Di website ini, pembeli bisa melihat berbagai pilihan daging dan harganya.

“Dengan minimal order senilai Rp 500.000, pesanan bisa diantarkan langsung ke rumah,” kata Yenny, menambahkan pengiriman dilakukan setiap Senin hingga Jumat, satu kali pengiriman saja dalam satu hari. Jadi, konsumen harus memesan sehari sebelumnya untuk dikirimkan keesokan harinya di luar akhir pekan.

Yenny pun menambah jumlah dan kapasitas lemari pendingin untuk menyimpan daging impor yang semakin banyak diminati pelanggan. Penyimpanan daging menjadi kunci penting untuk menjaga kualitas daging potongan. Rata-rata daging tersimpan di rumah Yenny selama satu bulan. Artinya, perputaran cukup cepat, dalam satu minggu Yenny harus segera memesan daging dari Australia dengan modal kisaran Rp 20 juta.

Kualitas nomor satu
Yenny memang gemar memasak, termasuk mengolah daging impor yang kebanyakan dibuat steak. Pengalaman menikmati daging berkualitas, ingin dibaginya kepada orang lain. Karenanya, bagi Yenny, bisnis rumahan ini tak sekadar mencari untung. Namun juga memastikan kualitas terjaga.

Dalam kelas workshop bersama komunitas memasak Mom Can Cook beberapa waktu lalu, Yenny diminta berbagi ilmu seputar daging impor. Dengan lugas dijelaskannya seluk-beluk daging Slaneys. Mulai soal pemotongan di peternakan besar di Australia, hingga distribusi dan penyimpanan yang baik untuk menjaga kualitas daging.

Lamanya waktu penyimpanan daging dalam chiller, bisa mempengaruhi rasa. Semakin lama disimpan daging akan semakin empuk, meski kondisinya beku.

“Banyak anggapan yang mengatakan daging beku itu tidak baik. Ini berasal dari kebiasaan para orangtua yang biasa membeli daging segar di pasar,” kata Yenny.

Padahal, menurutnya daging segar di pasar (yang langsung dimasak) memiliki kualitas yang sama dengan daging yang disimpan dalam chiller, lemari es atau freezer.

Pemahaman seperti ini juga diberikan Yenny kepada pelanggannya atau konsumen baru. Alasannya, bagi Yenny, pelanggan harus paham cara memperlakukan daging premium dengan baik, untuk mendapatkan rasa terbaik.

Bisnis yang dibangun dengan sentuhan personal ini pada akhirnya memberikan kontribusi cukup tinggi. Omzet penjualan berada dalam kisaran Rp 80 – 100 juta per bulan. Cukup menggiurkan dengan operasional yang simpel, seperti biaya listrik sejumlah lemari pendingin, biaya kurir, serta tenaga profesional untuk mengelola laporan keuangan.

“Sejauh ini saya masih 100 persen meng-handle bisnis dari rumah,” aku Yenny, yang merasa tak kerepotan membagi waktunya untuk menjalani bisnis lain di bidang garmen, dan mengurus keluarga tentunya. (female.kompas.com)

Pos ini dipublikasikan di Info Bisnis. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s