Revolusi Jins

Nina Tamam suka memakai celana jins sejak remaja. “Praktis, bisa dipakai untuk acara santai atau formal,” kata penyanyi 35 tahun ini di FX Jakarta, Senin lalu. Tapi Nina merasa kesulitan memilih celana jins yang cocok dengan tubuh mungilnya. “Pas di bagian pinggul, tetapi terlalu ketat di bagian paha, atau kalau di paha pas, di pinggul justru terlalu longgar,” katanya.

Setelah bolak-balik mencoba berbagai celana jins perempuan, akhirnya Nina tahu apa yang paling cocok buat dia. “Aku akhirnya pakai jins cowok ukuran 28, lebih pas buat aku ketimbang coba jins cewek,” kata Nina. Lain lagi dengan Asmirandah. Pemain sinetron berusia 20 tahun ini punya masalah berbeda ketika memilih celana jins. “Di pinggul dan paha sudah pas. Tapi ada gap (celah) di bagian belakang, antara pinggul dan pinggang,” kata Asmirandah.

Masalah kedua artis itu sama dengan masalah hampir semua perempuan di dunia: kesulitan menemukan celana jins yang pas. Buat perempuan, mengenakan celana jins yang pas sangat penting. Seperti Renny, 25 tahun, supervisor di sebuah perusahaan penerbitan. Ia memiliki 16 celana jins, tapi hanya memakai dua celana jins yang menurut dia paling enak dipakai.

Penelitian menunjukkan bahwa 54 persen perempuan mencoba setidaknya 10 celana jins sebelum menemukan celana yang tepat dan membelinya, serta 67 persen perempuan percaya jins hanya didesain bagi mereka yang memiliki bentuk tubuh ideal.

Berangkat dari penelitian itu, sebuah merek jins asal San Fransisco, Amerika Serikat, baru-baru ini melakukan inovasi pada sistem pengukuran celana jins perempuan. “Kami percaya, masalahnya bukan pada ukuran jins, melainkan pada lekuk tubuh perempuan yang unik,” kata Eden Bunag, Country Manager Levi’s Indonesia.

Selama setahun terakhir, produsen jins ini melakukan riset dan penelitian terhadap lebih dari 60 ribu perempuan di dunia. Hasilnya, mereka menemukan fakta bahwa semua perempuan memiliki lekuk tubuh yang berbeda.

Dari ukuran yang tercatat itu, teridentifikasi tiga jenis lekuk tubuh yang mewakili 80 persen tubuh perempuan secara universal, yaitu slight curve, demi curve, dan bold curve.
Slight curve adalah ukuran perempuan yang selisih antara pinggul atas dan pinggul bawah di bawah 3 inci. Apabila jins muat pada bagian pinggul, tapi terlalu ketat pada bagian paha–seperti yang dialami Nina Tamam–disarankan untuk mencoba slight curve. Nina, yang mencoba slight curve, cukup terkejut ketika mengetahui tubuh mungilnya bisa pas memakai jins perempuan slight curve ukuran 26. “Yang lebih seru lagi, bagian belakang saya jadi kelihatan lebih berisi,” katanya.

Ukuran bold curve adalah ukuran selisih antara pinggul atas dan pinggul bawah di atas 5 inci. Model ini cocok untuk perempuan yang sering mengenakan jins yang pas di bagian pinggul dan paha, tapi ada celah di bagian belakang.

Sementara itu, demi curve cocok untuk perempuan yang selisih pinggul atas dan pinggul bawahnya sepanjang 3-5 inci. Yaitu untuk perempuan yang sering merasa jatuhnya jins kurang bagus atau kurang melekat di tubuh, meski ukurannya sudah pas.

Jins Perempuan Sepanjang Zaman

Sebelum 1934: Wanita di Barat mulai mengenakan jins milik suami atau kakak laki-laki mereka, jins orisinal yang diciptakan pada 1873. Celana ini cukup kuat untuk dikenakan dalam kehidupan peternak yang keras.

1934: Jins pertama kali diciptakan untuk perempuan. Jins ini ditujukan untuk perempuan yang bekerja di peternakan, dan dijual di beberapa negara bagian di wilayah Barat.

1930-1940-an: Jumlah penjualan jins perempuan meningkat karena naiknya popularitas pekerja peternakan. Department store kelas atas, seperti Best & Co dan H. Kauffman & Sons Saddlery Company, menjual jins untuk memenuhi permintaan ini. Jins perempuan juga diubah, dari sebelumnya menggunakan kancing menjadi ruitsleting.

1950-an: Jins perempuan dijual di seluruh wilayah Amerika Serikat bersamaan dengan jins pria dan jaket jins klasik.

1960-an: Di tengah revolusi budaya, jins menjadi pakaian wajib perempuan. Jins menjadi ikon pemberontakan yang dikenakan oleh pria dan wanita.

1970-an: Jins perempuan menawarkan berbagai model dan potongan, termasuk “full” dan “straight” leg jeans dan “jeans cuff“. Flare dan bell-bottom juga menjadi model yang populer. Jins perempuan juga mulai populer di luar Amerika Serikat.

1980-an: Jins perempuan mulai menggunakan finishing stone-washing.

1990-an: Celana jins premium untuk perempuan mulai populer.

2002: Celana jins perempuan berpotongan super low mulai populer.

2004: Koleksi jins eksklusif terbaru untuk perempuan diluncurkan di banyak negara di Asia.

http://www.tempointeraktif.com/hg/kecantikan/2010/08/31/brk,20100831-275183,id.html

Pos ini dipublikasikan di Berita. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s