Bisnis Esek-esek Raup Rp 500 Juta Setahun

SURABAYA(Pos Kota)- Saat Lokalisasi Dolly, Jarak dan Moro Seneng Surabaya ditutup karena menghormati puasa Ramadhan, justru praktik pelacuran terselubung kian liar. Gadis-gadis di bawah umur kebanyakan masih pelajar SMA dijual ke om-om dengan tarif Rp 1 juta – Rp 1,5 juta. Transaksi cukup mudah, tinggal telepon lalu diantar ke hotel.

Praktik ini terbongkar setelah Polrestabes Surabaya menangkap seorang germo bernama Prastyono,27, warga Kenjeran Surabaya, saat mengantarkan pelacur ke Hotel Fortuna di Jalan Darmo Kali Surabaya.

Dua ABG berinisial SD dan VV, tercatat sebagai siswi kelas dua SMA swasta di Surabaya. Sedang VV yang berusia 16 tahun masih duduk di kelas satu SMU swasta.

“Saya menjualnya dengan harga rata-rata antara Rp 1 juta untuk short time. Kalau long time, saya pasang tarif Rp 1,5 juta. Dari hasil tersebut, saya hanya mengambil keuntungan Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu saja,” aku tersangka di Mapolrestabes Surabaya, Jl Sikatan Surabaya, Senin (30/8)malam.

Selain SD dan VV, tersangka mengaku masih mempunyai 15 orang stok ABG yang siap dijual kepada pria hidung belang. Rata-rata usia mereka antara 16 hingga 17 tahun. Menurutnya, bisnis kotornya ini sangat menguntungkan. Dalam seminggu saja, omzetnya antara Rp 10 hingga 15 juta. Sementara bisnis haram ini sudah dijalani tersangka satu tahun ini. Jika dirata-rata sebulan omzet Rp 40 juta, maka dalam setahun bisa mencapai Rp 480 juta. Atau jika dibulatkan mencapai 0,5 miliar rupiah.

Informasi dari penyidik menyebutkan, penangkapan tersangka dilakukan Sabtu (29/8) pukul 19.30 WIB oleh Subnit Judi Susila Unit Pidum Satreskrim Polrestabes Surabaya. Selainkan membekuk Prastyono, petugas juga mengamankan ERpencari pelanggan dan EM, warga Jl Jangkungan,  anak buah Prastyono.

Lelaki hidung belang berinisial RD, yang belum sempat mencicipi SD dan VV juga tak luput dari borgol polisi.”Tersangka kami amankan di parkiran Hotel Fortuna,” kata Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya, AKBP Anom Wibowo, Selasa(31/8).

Sesuai dengan pasal 2 ayat (1) dan (2) yo 17 UU RI no 21 tahun 2007 tentang PTPPO (Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang), dan pasal 88 UU RI no 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, tersangka  diancam dengan hukuman minimal tiga tahun dan maksimal 15 tahun penjara dan atau denda paling sedikit Rp 120 juta dan paling banyak Rp 600 juta, jelas Anom Wibowo.(nurqomar/B)

Pos ini dipublikasikan di Berita. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s