Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘Kerajinan’

h1

Peluang Bisnis Kerajinan Sabut Kelapa

Juli 18, 2011

Hampir seluruh bagian pohon kelapa memiliki bisa dipergunakan. Tak terkecuali sabut kelapa. Bahan yang satu ini memang sering terabaikan, padahal potensi ekonomis sabut kelapa cukup tinggi untuk diolah menjadi berbagai barang kerajinan bernilai seni tinggi.

Selama ini sabut kelapa sering dipakai sebagai media untuk mencuci piring atau peralatan masak. Banyak orang kurang menyadari, sejatinya, sabut kelapa ini menyimpan banyak pesona.

Di tangan orang yang memiliki tingkat kreativitas yang tinggi, sabut kelapa bisa disulap menjadi berbagai barang kerajinan. Bahkan, kulit buah kelapa ini bisa menjadi salah satu media lukisan yang memiliki nilai seni tinggi.

Mansur Mashuri, pemilik Rumah Sabut Jogja, mulai mengolah sabut kelapa sejak tahun 2008. Ia terjun pada usaha ini karena tergoda melihat potensi ekonomi yang terkandung dalam sabut kelapa. Alhasil, “Memanfaatkan sabut kelapa menjadi barang yang berguna adalah pekerjaan menantang,” ucapnya.

Mansur memang sangat tertantang untuk mengeksplorasi manfaat ekonomis sabut kelapa. Pasalnya, di daerah tempat tinggalnya, pasokan sabut kelapa sangat berlimpah.

Salah satu produk hasil produksinya kini adalah cocomesh, sebuah media yang berfungsi untuk memperbaiki kelembaban tanah di area yang tingkat kelembapannya turun akibat aktivitas tertentu.

Bentuk cocomesh ini menyerupai jaring. Selain mengembalikan kelembabapan tanah, cocomesh juga berfungsi untuk mencegah erosi dan membantu penguatan tanah di lereng bukit. Tak heran, jika permintaan banyak datang dari perusahaan pertambangan.

Hanya, Mansur enggan menjelaskan lebih detail tentang produk cocomesh yang dijualnya dengan harga Rp 9.000 per m². “Pasar cocomesh ini masih sangat terbatas, dan belum banyak orang yang mengetahui produk ini,” ujarnya.

Namun, Mansur menegaskan, produk andalan yang terbuat dari sabut kelapa adalah kasur dan matras. Ia mengklaim produk ini memiliki keunggulan dibandingkan dengan kasur yang terbuat dari busa atau kapuk. “Kasur ini memiliki tekstur yang lebih lentur dan tidak cepat kempes serta memiliki sirkulasi udara yang baik,” ungkapnya.

Untuk membuat kasur ini, selain sabut kelapa, Mansur juga menggunakan bahan lateks, sejenis karet yang memiliki permukaan lembut. Harga jual kasur dan matras ini Rp 3 juta tiap m³. “Kami dapat membuat sesuai dengan permintaan pelanggan,” katanya.

Biasanya, Mansur mendapatkan pesanan kasur berukuran panjang x lebar x tinggi masing-masing 2 m x 1,2 m x 1 m. Ia mengaku, permintaan untuk kasur ini belum terlalu banyak atau rata-rata tiga hingga lima kasur per bulan.

Meski begitu, pesanan itu ada yang datang dari Australia dan Singapura. “Mereka ternyata menyukai kasur berbahan sabut kelapa ini,” ujarnya.

Selain menjual kasur berbahan sabut kelapa, Mansur juga menyuplai bahan sabut kelapa kepada para perajin patung dan keramik. Menurutnya, pemakaian sabut kelapa dalam pembuatan patung dan keramik dapat memperkuat bentuk patung dan keramik itu. Proses pengeringan pun bisa berlangsung lebih cepat.

Dalam sebulan, Mansur mampu menjual 10.000 lembar sabut kelapa dengan harga jual sekitar Rp 4.000 tiap lembar. Rumah Sabut Jogja pun bisa meraup omzet hingga Rp 50 juta per bulan. “Tapi pendapatan ini sifatnya fluktuatif, tergantung dari minat pasar yang berubah-ubah,” ujarnya.

Salah satu perajin sabut kelapa yang mengolahnya menjadi patung adalah Ery Murdiyanto. Pemilik JongJava’s Art di Klaten ini mulai menekuni usaha kerajinan patung dari sabut kelapa ini sejak dua tahun silam. “Sabut kelapa memiliki karakteristik yang unik sehingga berbeda dengan bahan baku lain,” tutur Ery.

Seperti Mansur, Ery mulai terinsipirasi menggunakan sabut kelapa sebagai bahan baku kerajinan setelah melihat tumpukan batok kelapa di sekitar tempat tinggalnya.

Awalnya, Ery fokus mengembangkan hasil kerajinan sabut kelapa berbentuk patung kepala hewan, seperti monyet, elang, dan ular. Tapi, setahun belakangan dia menambah variasi bahan baku kerajinan tersebut dengan bahan lain untuk membuat postur tubuh patung hewan tersebut. “Kami mengkombinasikannya dengan bambu,” ujar Ery.

Ia menjual patung tersebut berkisar Rp 30.000 hingga Rp 80.000. Ery menjelaskan, harga jual patung tergantung dari bentuk dan tingkat kerumitannya.

Sementara itu, dalam urusan penjualan, selain di galeri yang berada di Klaten, Ery juga mengirimkan pesanan kepada para pelanggan yang berasal dari Bali dan Yogyakarta. Dalam sebulan, Ery menjual sampai 300 patung. Alhasil, duit yang mengalir ke kantongnya bisa bisa mencapai Rp 24 juta.

Untuk membuat kerajinan sabut kelapa, terlebih dulu Ery memilih buah kelapa yang sudah tampak tua dan kuning. “Buah kelapa yang digunakan adalah yang sabutnya tebal dan buahnya tipis,” ujar Ery.

Buah kelapa tersebut lalu dipecah dan dikeringkan di bawah sinar matahari selama tiga hari hingga empat hari. Selanjutnya. Ery akan mengandalkan keahliannya memainkan pisau ukir untuk membuat kerajinan itu.

Sementara itu, pemain lain yang menggunakan sabut kelapa untuk memberi nilai tambah pada produk kerajinannya adalah Nandang M. Pengelola studio lukisan Egy Art Gallery di Bandung ini memang menjual lukisan dengan bahan dasar sabut kelapa. “Berbeda dengan lukisan pada umumnya lukisan dengan media sabut kelapa ini memiliki nilai seni yang lebih tinggi dibandingkan dengan lukisan pada umumnya,” ucapnya.

Meski baru tahun lalu ia menemukan lukisan sabut kelapa ini, pemasaran kerajinan ini sudah mencapai mancanegara. “Saya mengirimkan ke Singapura dan Malaysia,” ujarnya.

Nandang pun meraih sukses dengan usaha ini hingga memiliki omzet Rp 100 juta per bulan. “Saya beruntung mendapat dukungan dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Bandung,” ujarnya.

Kini, ketiga perajin sabut kelapa ini sedang berusaha memperkuat pemasaran. Mereka yakin, dengan pamasaran yang baik, produk kerajinan sabut kelapa ini akan menuai banyak peminat. Kalau sudah begitu, permintaan pun akan mengalir dengan cepat.

h1

Diproteksi: Proses Produksi Kerajinan Aluminium

Januari 27, 2011

Tulisan ini dilindungi kata sandi. Untuk melihatnya mohon masukkan sandi Anda di bawah ini:

h1

Peluang Bisnis Kerajinan Kayu Kelapa

Januari 6, 2011

mangkok kayu kelapaKerajinan dari kayu kelapa tengah naik daun. Sekalipun popularitasnya belum setenar kayu jati atau mahoni, namun hiasan lampu, perkakas rumahtangga, tas, pot, hingga reading book stand dari kayu kelapa yang mempunyai serat yang unik ini, menuai banyak peminat.

Pohon kelapa memang sangat berguna bagi kehidupan manusia. Maklum, mulai dari daun, buah, batang, hingga akarnya bisa mendatangkan manfaat untuk manusia.

Dulu, seringkali, batang kelapa dipakai sebagai penyangga rumah. Namun, kini, batang kelapa mulai banyak dipakai sebagai bahan furnitur dan kerajinan.

Bahkan, permintaan hasil kerajinan kayu kelapa, seperti pelengkap perkakas rumah tangga naik sejak tiga tahun belakangan. Menurut perajin sekaligus penjual kerajinan dari kayu kelapa di Yogyakarta, Riadina, pesanan asbak, nampan, mangkuk, lampion lampu, hingga gazebo makin diminati masyarakat.

“Sejak saya mempromosikan barang kerajinan kayu kelapa lewat internet, pesanan meningkat hingga 50%,” tutur pemilik situs joglohandycraft.wordpress.com ini.

Letusan Gunung Merapi pun tak menyurutkan permintaan. “Pesanan selalu datang, tak ada pembatalan. Hanya, saya mengalami kesulitan dalam pengiriman,” ungkap Riadina.

Tekstur kayu kelapa yang kasar serta serat yang unik, justru disukai pembeli. Kesan alami dan ramah lingkungan begitu terlihat dalam bermacam produk kerajinan itu.

Apalagi, kayu kelapa juga dikenal bandel. Kayu ini antirayap dan tahan dalam segala kondisi cuaca atau tak gampang memuai.

Selain itu, furnitur berbahan kayu kelapa masih memiliki kesan eksklusif lantaran belum banyak pemakaiannya sebagai kerajinan. Segala kualitas yang dimiliki pohon kelapa telah menjadikan kayu kelapa layak dijadikan bahan baku kerajinan.

“Dibandingkan dengan kerajinan yang terbuat dari kayu lain, kayu kelapa jelas lebih aman karena penggunaan bahan kimianya tidak terlalu banyak. Hanya terdapat di catnya saja,” jelas Budiyana, pemilik Jingga Craft yang memiliki galeri di Meruya, Jakarta.

Untuk mendapatkan hasil kerajinan kayu kelapa yang bagus dan sesuai dengan model yang diharapkan, Riadina bilang, ia harus memilih kayu kelapa yang benar-benar kering. Jika basah sedikit saja, ia langsung menjemurnya.

Kayu yang benar-benar kering untuk menghindari barang kerajinan nantinya tak mudah retak. Selain itu, ketika proses pewarnaan, catnya bisa lebih merata.

Supaya terlihat indah, Budiyana pun melapisi cat furniturnya hingga tiga kali. Sebelumnya, ia memastikan dulu, barang-barang kerajinan atau furnitur itu benar-benar halus.

Untuk menjaring lebih banyak pelanggan, Budiyana yang mengawali bisnis kerajinan kayu kelapa dari hobi, juga memberikan garansi selama tiga tahun, jika ada keretakan atau mengalami kerusakan yang berasal dari pengelolaan barang yang tidak teliti.

Di galerinya, Budiyana lebih banyak menjual pot scaping batok kelapa motif batik. Harganya, Rp 150.000-Rp 400.000 per unit.

Di showroom Riadina, kerajinan lampu menjadi pesanan favorit. Ia menyediakan tiga model lampu, yakniwall lamp silinder atau kotak, kemudian ball tample lamp, dan floor tample lamp. “Bentuknya unik dengan serat bergaris pendek, ini menjadi ciri khas dari produk kami,” ujar Riadina yang menjual lampu itu Rp 80.000-Rp 1,5 juta per unit.

Belakangan, pesanan nampan dan mangkok juga makin banyak. Harga kedua barang ini berkisar Rp 18.000 hingga Rp 45.000 per unit. Berkat pesanan yang terus mengalir, pendapatan Radina pun melonjak. Kini, setiap bulan, dia bisa meraih omzet Rp 50 juta per bulan. (peluangusaha.kontan.co.id)

h1

Potensi Bisnis Kerajinan Berbahan Baku Limbah

Januari 6, 2011

Bebek Bulu Lagi BarisProduk ramah lingkungan menjadi tren bisnis baru. Bukan hanya menimbun rupiah, niat ikut menyelamatkan lingkungan pun digaungkan para pelaku usaha ini. Kini, produk kerajinan berbahan baku limbah, seperti koran dan kardus, menjadi bisnis yang populer.

Aktivitas penyelamatan lingkungan atau yang populer dengan istilah go green kini telah mendunia. Banyak pihak berkomitmen untuk ikut serta mensukseskan gerakan ini.

Salah satu cara yang paling sederhana adalah dengan menggunakan produk-produk ramah lingkungan. Baik produsen maupun konsumen harus saling menyadari arti penting kegiatan penyelamatan lingkungan itu.

Belakangan, produk yang cukup sering ditemui yakni, barang-barang memakai bahan baku dari hasil daur ulang sampah. Maklum, bahan ini paling mudah dibuat pelbagai bentuk kerajinan tangan.

Jenis produk yang diciptakan makin beragam. Tak hanya kerajinan tas, produk lainnya, semisal sandal, tempat tisu, kotak kado, vas bunga, dan keranjang ramah lingkungan, pun ada.

Potensi bisnis yang besar tersebut memicu Wisnu Dhata menjalankan usaha CV Art Strawberry di Yogyakarta. Dagangannya berasal dari kertas kardus yang didaur ulang menjadi kertas kraft atau loom.

Lantas, dari kertas kraft ini dibuat aneka bentuk tas kertas atau goody bag, keranjang, tali kertas hingga wadah cantik serbaguna. “Tapi, fokus produk saya itu tas kertas,” katanya.

Tas kertas berfungsi menggantikan kantong berbahan plastik yang relatif sulit terurai di tanah ketimbang bahan kertas. Kapasitas produksi produk ramah lingkungannya sebanyak 300.000 unit per bulan.

Untuk membuat produk kerajinan sebanyak itu, Wisnu butuh hingga 25 ton kertas kraft sebulan. Harga tas kertas buatannya Rp 450 hingga Rp 1.350 per unit. Adapun harga jual kerajinan kotak dan keranjang sekitar Rp 50.000 – Rp 80.000 per unit.

Harga jual produk ramah lingkungannya relatif murah lantaran biaya tenaga kerja bisa ditekan. Ia memberdayakan masyarakat di sekitar Kampung Trini, Yogyakarta untuk membuat bermacam kerajinan tangan itu. “Ada sekitar 100 kepala keluarga yang bisa mendapat penghasilan tambahan dari keterlibatan mereka dalam produksi ini,” ujarnya.

Biasanya, pesanan terbanyak berasal dari kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Surabaya, Semarang, dan Cirebon. Tak hanya pesanan lokal, tiap dua bulan Wisnu pun mendapat pesanan dari luar negeri, seperti dari Singapura, Jepang, serta Prancis.

Tiap kali pesan, rata-rata jumlah pembelian dari luar negeri sebanyak 10.000 unit. Omzet dari situ sekitar Rp 20 juta. Bila digabung dengan penjualan di pasar lokal, omzetnya tak kurang dari Rp 100 juta tiap bulan.

Bukan hanya kertas kardus, kertas koran bekas pun bisa menjadi bahan baku. Adalah Yunas Habibillah, perajin dari Yogyakarta yang menggunakan bahan baku kertas koran dan majalah untuk produk kerajinannya. Produknya, seperti sandal, tempat tisu, dompet, tas, dan tempat pensil, diberi merek Dluwang Art.

Yunas juga memadukan kertas daur ulang dengan beragam bahan lain. Antara lain, kain dan kulit sintetis untuk produk kerajinan ramah lingkungannya.

Rata-rata Yunas bisa membuat 500 pasang sandal dengan harga jual Rp 20.000 per pasang. Ia juga mampu membuat 200 unit tas yang harganya mulai Rp 15.000 hingga Rp 100.000 per unit. Kapasitas pembuatan kotak sebanyak 100 unit dengan harga jual Rp 10.000 sampai Rp 100.000 per kotak.

Omzet Yunas memang tidak sebesar Wisnu. Rata-rata omzetnya hanya Rp 10 juta per bulan. “Tapi omzet saya bisa melompat hingga Rp 20 juta ketika mengikuti pameran kerajinan di Jakarta,” katanya. (peluangusaha.kontan.co.id)

h1

Tempurung dari Blitar Tak Lagi Murung

Januari 1, 2011

Siapa tak kenal kerajinan tempurung kelapa. Di sejumlah kota besar dan tempat-tempat wisata, kerajinan tangan ini gampang dijumpai.

Bentuknya macam-macam. Namun hampir semua kerajinan dari bahan limbah ini dibiarkan memiliki warna seperti aslinya. Serba coklat alami. Berkesan eksotik.

Di Jawa Timur, ada ratusan perajin tempurung kelapa. Jumlahnya terus bertambah karena keberadaan limbah buah kelapa juga melimpah.

Laiknya membuat kerajinan, mengolah tempurung kelapa juga butuh keterampilan. Teknologi yang dipakai tak perlu canggih. Sentuhan inovasi membuat kerajinan ini semakin diminati sampai mancanegara.

Dwi Wahyuni, penggemar kerajinan tempurung kelapa, mengaku punya banyak koleksi kerajinan ini. “Dulu saya membeli ketika tugas di Bali. Hasil olahan tempurung kelapa di sana lebih halus dan bentuknya inovatif. Kalau yang saya jumpai di Jatim, kok standar,” aku wanita 42 tahun ini.

Koleksi terbanyak adalah tas dari tempurung kelapa, lainnya aksesori dan peralatan rumah tangga. “Harganya cukup terjangkau, tak sampai Rp 100.000. Kalau kerajinan yang berupa tas masih awet sampai sekarang. Tapi kalau sendok, garpu dan peralatan memasak lainnya kurang awet, mungkin karena sering dipakai,” ujar Dwi.

Demikian halnya aksesori macam ikat pinggang, kalung, serta hiasan interior rumah. “Tempurung kelapa meskipun kelihatannya keras, tapi dalam tempo dua tahunan gampang retak atau pecah. Terutama yang dipecah-pecah menjadi bulatan kecil,” lanjut ibu satu anak ini.

Bagi Hepicsa Setiayuda, perajin tempurung kelapa asal Blitar, ide awal memulai usaha ini dilatarbelakangi limbah tempurung kelapa yang melimpah di kawasan rumahnya.

“Pohon kelapa tumbuh melimpah di Desa Seduri, Kecamatan Wonodadi. Waktu itu yang diolah cuma isi buahnya saja, tempurungnya dibuang dan numpuk. Di tempat lain ada yang dipakai bahan baku briket tapi tidak banyak, mungkin karena teknologi pengolahnya juga terbatas,” jelas pria kelahiran 2 Maret 1984 ini, ditemui di sela Jatim Fair di Grand City.

Paman Hepic iseng-iseng mengolah tempurung sendiri dengan dibantu mesin potong sederhana yang berukuran kecil. Dari situlah usaha berawal, sekitar 11 tahun silam.

“Dulu modalnya kecil sekali, sekarang omzet per bulan tak kurang dari Rp 70 juta. Tahun ini termasuk sepi order karena perajin sudah sangat banyak, jadi persaingannya ketat dan tidak bisa pasang harga tinggi. Order dari mancanegara sekarang tinggal Malaysia dan Thailand saja,” katanya.

Jenis kerajinan yang banyak dipesan seperti, lampu hias dan tas fashion. “Sebetulnya apapun jenis usaha pengolahan limbah, jika di-support maka bisa sangat berkembang. Kendalanya justru bukan modal, tapi lebih ke inovasi dan pemasaran. Ini mengingat pasar kerajinan tempurung kelapa di pasar domestik sudah mulai jenuh,” jelas Hepic.

Diakuinya, untuk mengekspor tidak mudah. “Standar kualitas harus tinggi, jumlah produksinya juga harus stabil,” ujar alumni Pendidikan Keguruan dari Universitas Surabaya ini.

Melalui gerai Butik Kelapa, Wood and Coconut, Hepic dan 78 warga kampungnya kini mampu memroduksi 200 unit barang per jenis. Saat ini ada sekitar 50 jenis barang, antara lain celengan, tempat tisu, dompet, topeng, ragam aksesori, tas, hiasan interior ruangan.

“Sistem kerjanya borongan dan pengerjaannya bisa di rumah warga sendiri, finishing-nya baru di pabrik saya. Tapi khusus jenis lampu hias, pengerjaannya tidak bisa langsung banyak karena tenaga ahlinya cuma satu orang,” papar Hepic, yang biasanya memesan puluhan ikat tempurung sekaligus. Per ikat yang terdiri dari puluhan tempurung itu biasanya dihargai Rp 15.000.

Untuk menggali pasar, Hepic menggali ide melalui browsing di dunia maya dan konsultasi pada eksportir. “Usaha saya dapat pembinaan dari Universitas Brawijaya dan Dinas Sosial Provinsi Jatim. Inovasi kadang juga digali dari sana,” ujarnya.

Ke depan, mantan guru SD ini mengaku, bakal menjelajah pasar ekspor Australia dan AS. “Kapan hari sudah ada penawaran dari buyer di sana. Tinggal saya inovasi produk dan kirim contoh,” jelas sulung tiga bersaudara ini.

Hepic dipercaya mengelola usaha limbah tempurung kelapa ini lantaran tinggalnya tak jauh dari rumah paman. Selain karena anak-anak pamannya yang masih berusia sekolah dasar, orangtua Hepic sendiri juga berprofesi sebagai guru dan memiliki adik-adik yang masih kecil. (bisniskeuangan.kompas.com)

h1

Jutawan dari Kerajinan Sampah Pantai

Januari 1, 2011

Banyak orang ke pantai di Pulau Dewata, ya, liburan menikmati ombak sampai menikmati terbenamnya matahari. Namun, bagi Made Sutamaya (43) tidak hanya itu. Pergi ke pantai adalah berlibur dan mencari sampah, lalu menyulapnya menjadi kerajinan tangan bernilai jutaan rupiah bagi dirinya.

Delapan tahun lalu, Sutamaya tak sengaja memandangi tumpukan sampah itu. Banyak sekali potongan kayu hingga ranting-ranting. Menumpuk bak gunung kecil. Tiba-tiba, ia pun berpikir bagaimana agar yang terbuang itu menjadi sesuatu yang bermanfaat serta menjual.

Bahan ada, gratis, serta ramah lingkungan pula! Itu katanya sambil memandangi sampah ranting saat itu. Namun, pria kelahiran Singaraja, Bali, ini belum tahu juga bahan yang ada ini akan diolah seperti apa.

Bermodal nekat, ia pun memungut sampah kayu-kayu itu sebanyak dua kantong plastik berukuran sedang, kemudian dibawa ke rumah yang sekaligus galerinya, Kioski. Dalam waktu sehari, ia pun menemukan ide. Bapak empat anak ini pun membongkar pasang ranting-ranting hasil penemuannya di pantai itu.

”Saya menjadikan ranting- ranting ini menghiasi pinggiran kaca rias berukuran 60 cm x 100 cm. Besoknya langsung laku terjual sekitar Rp 200.000. Pembelinya orang asing yang biasa membeli mebel di toko saya ini. Bahkan, ia meminta saya membuat lagi model yang sama dan model-model lainnya,” tutur Sutamaya bersemangat.

Ini peluang! Sutamaya pun semangat mencari ide-ide untuk model barunya. Setiap hari ia pun mulai bongkar pasang dan mendesain sendiri hiasan kaca rias, hiasan dinding, sampai meja. Harganya bervariasi, mulai dari ratusan ribu rupiah sampai jutaan rupiah. Wajar, semua menggunakan tenaga tangan manusia, alias kerajinan tangan murni.

Ranting-ranting itu sama sekali tidak ada sentuhan lain, kecuali paku kecil dan sedikit perekat. ”Semua ranting tidak ada yang sengaja saya patahkan, saya membiarkannya alami. Saya hanya membutuhkan semacam konstruksi di dalamnya sebagai dasar bentuknya,” katanya.

Tentu saja proses pembuatannya rumit dan membutuhkan kecermatan. Bagaimana membentuk dan merekatkan ranting itu satu dengan lainnya agar tidak lepas perlu kelihaian tersendiri. Kalaupun menggunakan paku, hampir tidak terlihat sama sekali. Kesan alami juga muncul ketika kerajinan hiasan dinding, seperti bentuk ikan, tidak diolesi cat pelapis kayu.

Ketekunannya pun membawa hasil. Kini omzetnya sudah lebih dari Rp 100 juta per bulan. Dia juga sudah mengekspor produknya ke beberapa negara di Eropa.

Setiap bulan ia mampu mengumpulkan sedikitnya satu truk setoran sampah pantai. Ia hanya menerima setoran ranting-ranting kayu. Selanjutnya, Sutamaya menyortir ranting-ranting itu dari yang kecil hingga besar atau kebetulan menemukan ranting berbentuk, lalu dicuci bersih dan dijemur. Setelah benar-benar kering, sampah ranting ini siap untuk dirakit.

Bagi Sutamaya, untuk merakit hiasan dinding berbentuk ikan berukuran panjang sekitar 40 cm dan lebar 20 cm, ia hanya membutuhkan waktu tidak lebih dari dua jam. Ia sudah semakin terbiasa. ”Ya, seni itu kan menggunakan rasa dan estetika. Jadi, perasaan itu terlibat banyak demi keindahan,” tuturnya.

Sekarang ini ia memiliki 80 pekerja yang khusus mencari dan memunguti sampah kayu di semua pantai Bali. Ia pun tidak sungkan mencari bahan sampai ke pantai-pantai di Pulau Jawa.

Pekerja yang membantunya menyusun kayu hingga berbentuk berjumlah sekitar 40 orang. ”Saya mempekerjakan warga desa di Singaraja. Biar mereka tidak silau bekerja di perkotaan saja. Soal hasil finalnya, tetap saya yang mengerjakannya,” katanya.

Kerajinan tangannya itu ada yang berbentuk ikan atau hiasan meja berbentuk kuda, bebek, atau hiasan untuk lampu meja. Ia pun membuat kerajinan tangan berbentuk sapi, kuda, atau jerapah berukuran sama dengan aslinya. Replika binatang dari ranting-ranting untuk dekorasi luar ruangan itu harganya mulai Rp 6 juta.

Ia mengaku tak masalah jika karyanya ini mulai banyak ditiru, tetapi konsumennya tetap bisa membedakan mana buatannya. Karena itu, menjadi tantangan bagi dirinya agar terus berkembang setiap hari dengan model dan gaya yang terus baru. Namun, ia menggelengkan kepalanya ketika pembicaraan menyinggung pengurusan hak kekayaan intelektual (HKI).

”Ah, sudahlah. Saya tidak perlu lagi mendaftarkan semua karya saya. Saya juga tidak bisa menuntut apa pun ketika karya orang lain mirip itu. Kemiripan itu bisa saja diartikan ada yang berbeda. Kita tidak bisa menuntut apa pun meski ide dasarnya sama. Jadi rugi, sudah membayar mahal karena semua karya harus didaftar,” ujar Sutamaya.

Jauh sebelum menjadi jutawan dan dianggap orang yang menemukan dan menjual ide dengan memanfaatkan sampah ranting kayu dari pantai, ia hanyalah karyawan sebuah galeri di Ubud. Perantauannya menjadi karyawan dari Singaraja ke Ubud yang berjarak sekitar 100 kilometer itu tak bertahan lama. Ia pun mencoba membuka galeri sendiri. Karena sewanya makin mahal, sekitar tahun 2000, Sutamaya pun pindah ke Badung.

Menurut dia, lokasi yang ditinggalinya sekarang ini sudah jadi miliknya dan lebih strategis. ”Buktinya, saya mendapatkan ide merakit ranting ini setelah berada di sini. Saya bersyukur sekali kepada Tuhan,” ujarnya.

Ia pun sudah masuk menjadi anggota Asosiasi Mebel Indonesia (Asmindo) Bali. Selain itu, Sutamaya yang selalu dibantu dan didukung oleh istri dan keluarganya itu juga bangga bisa membawa nama Bali di pameran Pekan Raya Jakarta (PRJ) mulai tahun 2004 setiap tahun hingga sekarang.

Hingga kini ia terus konsisten menjaga alam. Ia terus memanfaatkan sampah yang setiap hari mengotori pantai. Ia juga berharap apa yang dilakukannya ini dapat dicontoh anak-anaknya. (bisniskeuangan.kompas.com)

h1

Kerajinan Klaten

Desember 24, 2010

Kerajinan Klaten – Joglo Handycraft sedia kerajinan tangan dengan produk berbahan baku kayu mahoni, sonokeling, kayu kelapa, bambu, aluminium, tembaga dan kuningan. Kami menjual kerajinan tangan yang berkualitas dengan harga pengrajin.

Miniatur Lemari Kerajinan Miniatur Kerajinan Kayu Kelapa Kerajinan Kayu Gazebo Kayu Kelapa

Kerajinan-Kerajinan yang kami sediakan antara lain :

Kerajinan Kayu Kelapa : asbak, coaster, mangkok, nampan, piring, sendok garpu, lampu hias, tempat sampah, tempat lili dll.

Kerajinan Kayu : Kerajinan Asbak, Coaster / Lepek, Tempat Tissue, Tempat Perhiasan, Tempat Loundry, Nampan / Baki, Tempat Sampah, Tempat Payung, Tempat Koran, Souvenir Kayu dll

Kerajinan Miniatur Kayu : miniatur becak, miniatur sepeda, miniatur Harley Davidson, miniatur pesawat, miniatur mobil, miniatur kapal, miniatur VW Bettle, miniatur VW Combi, miniatur Vespa, miniatur Helicopter dll.

Kerajinan Aluminium : Asbak Aluminium, Piring Aluminium, Mangkok Aluminium, Nampan Aluminium, tempat lilin, tempat sabun dll.

Kerajinan Miniatur Tembaga : sepeda cowok, sepeda cewek, sepeda keranjang, becak biasa, becak medan, becak shanghai, Harley Davidson, motor trail, vespa, mio, dokar, gerobak pedati dll.

Kerajinan Kuningan : asbak kuningan, setrika, bel pintu, vas bunga, tempat sirih, klontong sapi dll.

Kerajinan Batik Kayu : cermin, lemari, meja, topeng, gantungan kunci, tempat lilin dll.

Gazebo : Terima pesanan pembuatan Gazebo Bambu dan Gazebo Kayu Kelapa.

Dan Lain-Lain

Kami berusaha menyajikan informasi Kerajinan kami selengkap mungkin untuk Anda, semua hanya tinggal klak-klik saja. Karena kami menyadari waktu Anda yang sangat berharga. Bila ada informasi yang masih Anda perlukan dan tidak tercantum disini, silahkan kontak kami.

Terima kasih atas kepercayaan Anda kepada Joglo Handycraft

Joglo Handycraft - Kontan

Joglo Handycraft diliput di Harian KONTAN Edisi Jum’at, 26 November 2010 Halaman 17

Liputan Kontan Online

Liputan Usaha di Kontan Online - Rabu, 02 Maret 2011 | oleh Rivi Yulianti, Mona Tobing

Handycraft

TERIMA PESANAN PEMBUATAN HANDYCRAFT

Kerajinan Aluminium

Membuat Kerajinan Aluminium di Bengkel Joglo Handycraft. Lihat Proses Produksi Kerajinan Aluminium (klik gambar)

www.kerajinanaluminium.com

Jelang Siang

TRANS TV Liputan Jelang Siang ....

h1

Kerajinan Kayu Kelapa Coaster & Tutup

Desember 1, 2010

Kerajinan Kayu Kelapa Coaster & Tutup

A. coster + tutup (Ø: 9 cm)
B. coster + tutup (Ø: 10 cm)

h1

Kerajinan Kayu Kelapa Cangkir

Desember 1, 2010

Kerajinan Kayu Kelapa Cangkir

 

h1

Kerajinan Kayu Kelapa Bed Mate

Desember 1, 2010

Kerajinan Kayu Kelapa Bed Mate

(70 x 40x4cm)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 55 pengikut lainnya.