Peluang Investasi Mobil Antik

mobil antikUmumnya, seseorang mengoleksi barang antik, seperti mobil kuno, bermula dari kecintaan dan hobi. Namun siapa sangka, dengan perawatan layak dari sang empunya, barang lawas ini bagaikan sebuah permata yang berkilau setelah digosok.

Perubahan dan perkembangan zaman tak akan pernah mampu mengikis nostalgia seseorang terhadap nilai-nilai sejarah di masa lampau. Sebagian orang memelihara sejarah itu melalui koleksi mobil-mobil antik.

Misalnya Oong Setiamanah. Pria berusia 62 tahun ini mengaku telah menyukai mobil antik dan unik sejak masih belia. Maklumlah, kala usianya menginjak 12 tahun, ayahnya memiliki bisnis angkutan truk.

Dari kendaraan yang dimiliki sang ayah, Oong kecil menyukai mobil tipe Ford Marmont produksi tahun 1948 dan Chevrolet buatan tahun 1951. Tapi, baru pada 1980 atau saat menginjak usia 32 tahun, Oong bisa membeli mobil antik pertamanya. Waktu itu, ia membeli Maurice buatan tahun 1951 seharga Rp 500.000.

Namun, tidak semua mobil antik menjadi buruan para kolektor. Oong bercerita, semula, dia memang membidik semua mobil yang tergolong antik. Pandangannya baru terbuka saat membaca sebuah majalah terbitan luar negeri yang membahas tentang mobil-mobil tua. “Dari situ, saya tahu merek mobil yang berkelas dan layak koleksi,” kata pemilik usaha kontraktor listrik tersebut.

Senada, Robby Djojosaputro juga mengaku sudah menyukai kendaraan roda empat sejak berumur lima tahun. Namun, dia baru bisa mewujudkan kesenangan masa kecilnya itu setelah berusia 34 tahun. Koleksi mobil antik pertamanya adalah Chrysler tahun 1948 yang ia beli seharga Rp 400.000.

Dua tahun kemudian, Robby merelakan mobil antiknya dibeli orang lain seharga Rp 2,1 juta. Namun, bukan berarti dia mereguk untung. Sebab, dia telah menghabiskan biaya perbaikan sebesar Rp 2 juta.

Tapi, Robby tak pernah kapok mengoleksi mobil berusia uzur. Kecintaan pada mobil antik membawanya berhimpun dalam wadah Perhimpunan Penggemar Mobil Kuno Indonesia (PPMKI) sejak tahun 1980.

Koleksi kedua Robby adalah Chevrolet produksi tahun 1952 yang ia beli pada 1983. Kala itu, harganya Rp 200.000. Setelah 26 tahun berselang, mobil tersebut dihargai Rp 12 juta atau meroket 5.900%.

Orang awam beranggapan, seiring bertambahnya usia mobil, harga jual mobil kuno akan meningkat. Namun, sebenarnya, anggapan ini tak sepenuhnya benar. Kekunoan bukan faktor utama yang menentukan harga sebuah mobil antik.

Keaslian lebih penting

Robby menggambarkan pasar mobil antik di Amerika Serikat (AS) sebagai pembanding. Di sana, mobil antik dikelompokkan berdasarkan keaslian atau orisinalitas dan modifikasi, yang kemudian dibagi lagi dalam beberapa kategori. Berdasarkan pengelompokan itulah, akhirnya kualitas mobil antik bisa dinilai dan ditetapkan standar kelayakan harganya.

Namun, di pasar di Indonesia, biasanya hanya kategori orisinal dan modifikasi yang dikenal. Semakin orisinal atau asli mobil dan komponennya, semakin tinggi pula harganya. “Perbedaan harga antara satu mobil yang full original dengan yang tidak full original bisa mencapai tiga kali lipat,” imbuhnya.

Sebuah mobil antik disebut orisinal atau asli jika semua komponen mobil itu belum diganti. Artinya, sama sekali tidak ada perubahan pada bagian mesin, interior, dan eksterior. Bahkan, ban serep dan alat dongkrak, juga tak luput dari perhatian.

Ambil contoh, seorang kolektor membeli sebuah mobil kuno seharga Rp 100 juta. Beberapa tahun berselang, bila si kolektor menjualnya kembali dalam keadaan tidak asli lagi, harganya mungkin hanya mencapai sekitar Rp 200 juta. Namun, jika keaslian semua elemen mobil tetap terjaga, banderolnya bisa naik menjadi Rp 300 juta sampai Rp 500 juta.

Untuk membuktikan tingkat keasliannya, terkadang, ada juri yang bisa memberikan penilaiannya dalam setiap pameran. Robby berkisah, dalam beberapa pameran di Jakarta Convention Centre (JCC), Senayan, Jakarta, sebuah perusahaan pembiayaan kendaraan menggelar kontes mobil antik. Kontes ini khusus menghadirkan juri asal Eropa.

Saat memeriksa keaslian kendaraan, para juri atau penilai akan mencermati beberapa komponen seperti ban, dongkrak, dan semua perlengkapan lain yang ada di mobil. “Ban serep dan dongkrak pun bisa mempengaruhi nilai orisinalitas mobil,” ungkap Robby. Apalagi, menurutnya, para kolektor mobil antik di dalam negeri sangat memperhatikan dan jeli melihat unsur keaslian tersebut.

Selain keaslian, harga mobil antik juga sangat ditentukan oleh mereknya. Mobil-mobil merek tertentu bisa mendatangkan keuntungan berlipat-lipat bagi para kolektornya.

Robby menjelaskan, di luar negeri, ada beberapa jenis mobil yang menjadi buruan kolektor. Antara lain adalah Rolls Royce dan Mercedes tipe langka. Namun, di dalam negeri, agak sulit mendapatkan merek-merek mobil unik seperti yang umum dijual di pasar AS.

Saat ini, mobil Mercedes Roadster tipe 500K dan 550K bernilai sangat tinggi. Mobil antik yang beredar di Inggris pada sekitar tahun 1930-1937 ini dipatok pada kisaran harga US$ 500.000 hingga US$ 1 juta.

Khusus di Indonesia, menurut Oong, mobil Porsche buatan 1918 termasuk jenis kendaraan roda empat yang langka. Bila ditelisik, jumlahnya tidak lebih dari lima unit saja di negeri ini. “Harga pasarnya sekarang bisa mencapai Rp 500 juta,” imbuhnya. Karena itu, mobil jenis ini juga menjadi buruan kolektor.

Selain itu, para kolektor juga kerap mengincar mobil bermerek Chevrolet yang berusia di bawah tahun 1930. “Alasannya karena lebih umum atau mereknya sudah lazim diperdagangkan di kalangan kolektor,” papar Oong.

Pentingnya renovasi

Sebagai penggemar Chevrolet, Robby tengah mengincar Cheverolet Bel Air tahun 1955-1957. Dari jenis ini, ada beberapa tipe yang disukainya. Menurut dia, kalau belum didandani, harga mobil ini hanya sekitar Rp 35 juta-Rp 40 juta. Namun, jika kondisinya sudah lebih bagus dan sudah direnovasi, banderol harganya bisa mencapai Rp 100 juta-Rp 150 jutaan.

Apalagi bila pengerjaan renovasinya sempurna, harganya bisa terkerek menjadi Rp 300 jutaan. “Untuk kategori mobil yang layak dipamerkan, harganya bisa mencapai Rp 300 juta hingga Rp 500 juta,” tukas Oong.

Oong menjelaskan, mobil yang dianggap sudah layak pamer biasanya menggunakan bahan-bahan kelas premium saat proses renovasi. Misalnya cat dan kulit jok memakai bahan pilihan.

Untuk urusan renovasi, para kolektor mobil kuno memang tergolong royal memoles koleksinya. Oong, misalnya, membeli Chevrolet Pick Up tahun 1941 yang ia namai Jambrong pada tahun 2000. Saat itu, dia membeli mobil itu dalam kondisi rusak seharga Rp 50 juta. Duit dalam jumlah yang sama harus ia dikeluarkan untuk biaya renovasi mobil itu.

Hal yang sama dilakukan Robby. Ia membeli sebuah mobil Dodge Kingsway produksi tahun 1954 seharga Rp 25 juta pada 1998. Dengan biaya perbaikan awal sekitar Rp 15 juta, mobil ini laku terjual kembali dengan harga Rp 60 juta 10 tahun kemudian.

Memang, sering muncul pertanyaan: ”Apakah barang ini likuid alias gampang dijual kembali?” Jawabannya gampang-gampang susah. Sebab, kata Oong, penggemar mobil antik juga tidak banyak. Selain itu, selera juga sangat menentukan aktivitas perburuan mereka.

Karena itu, Oong menyarankan para sang calon investor mobil antik untuk masuk komunitas PPMKI. Di sana, antara pemilik mobil antik yang satu dengan lainnya bisa bertukar informasi dan melakukan transaksi jual-beli.

Selain itu, setiap tahun, PPMKI menggelar pameran. “Memang tidak ada agenda rutin, namun dalam setahun bisa lima hingga 10 kali,” tuturnya.

Lantas, berapa besar potensi keuntungannya? Seperti sudah disebut di awal, jenis dan unsur orisinalitas jadi penentunya.

Misalnya, potensi kenaikan harga mobil antik Pontiac dan Dodge dalam 10 tahun berkisar dua sampai tiga kali lipat. Sedangkan harga mobil Ford Tunderbird produksi tahun 1955-1962 dan Ford Mustang jenis cabriolet tahun 1965-1967 bisa naik empat atau lima kali dalam kurun waktu yang sama.

Robby mengenang, sepanjang perjalanannya berbisnis mobil antik, tidak kurang dari 100 unit kendaraan sudah berhasil ia jual. Pria paruh baya yang menyukai olahraga reli mobil ini, kini mengoleksi lima unit mobil kuno. Empat jenis mobil bermerek Chevrolet, dan satu lainnya bermerek Honda.

Ia mengklaim, banyak orang telah antre untuk membeli mobil-mobil ini. Namun, Robby tidak ngoyo menjualnya. Sebab, mengambil keuntungan dari berjualan mobil tua bukan seperti mendapatkan keuntungan dari jual-beli tanah. Prosesnya membutuhkan waktu, teknik, dan sangat tergantung selera si pembeli.

Melalui PPMKI, Oong dipercaya oleh pemerintah untuk mengurus Chrysler Crown Imperial tahun 1963. Ini kendaraan dinas RI-1 saat lampau. Kini, hanya ada 23 unit mobil jenis ini di seluruh Indonesia. (peluangusaha.kontan.co.id)

About these ads
Tulisan ini dipublikasikan di Info Bisnis dan tag , . Tandai permalink.

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s